Follow by Email

Jumat, 09 Maret 2012

MAHA PATIH GAJAH MADA

GAJAH MADA

Halo kawan-kawan. Lama tak jumpa. Males banget ngeblog. Entah mengapa. Tapi ya, sudahlah mari kita nulis lagi. Sekarang saya mau mencoba membuat resensi (versi sendiri) dari buku-buku yang sudah saya baca. Sesuai dengan “janji” di resolusi 2010 bakal bikin tulisan tentang buku. Preeeeett…. masih inget tuh sama resolusi.. –”
Wokey deh, langsung aja. Gw mau nulis tentang buku berjudul GAJAH MADA karangan LANGIT KRESNA HARIADI. Saya bikin tulisan ini bukan karena judulnya sama dengan nama kampus tempat saya kuliah, lho ya. Hahaha….

Saya memang cukup suka cerita-cerita tentang tokoh-tokoh sejarah jawa lama. Tapi bukan berarti saya penggemar sejarah seperti iyanpedia. Seru juga mengetahui kisah-kisah para leluhur raja di tanah Jawa ini dalam bentuk novel, bukan buku sejarah. Sebelumnya pernah baca buku tentang Ken Arok, penulisnya entah siapa, yang pasti bahasanya sangat membosankan dan kurang bagus. Maestro sastra Indonesia, Pramudya Ananta Toer juga menulis kisah tentang preman Jawa ini melalui novel Arok Dedes. Novel ini lebih bagus, tapi bahasanya keberatan.
Langit Kresna Hariyadi menulis petualangan Gadjah Mada ke dalam 5 seri buku. Buku yang akan diresesnsikan merupakan buku seri pertama. Bercerita tentang Gadjah Mada ketika masih berusia muda sebelum menjadi Mahapatih.
Buku ini mengisahkan Gadjah Mada ketika masih menjabat sebagai Bekel yaitu tingkatan di bawah Senopati. Gak tau juga kalo sekarang padanannya setingkat apa. Mungkin setingkat Kapten, ya kira-kira perwira menengah, lah. Walaupun hanya Bekel, Gadjah Mada dipercaya memegang jabatan sebagai pemimpin pasukan Bhayangkara, yaitu pasukan elit kerajaan. Tugasnya adalah mengamankan keluarga kerajaan. Ring 1. Mungkin kalo sekarang, sih, paspampres kali. Sebagai pimpinan pasukan Bhayangkara, Bekel Gadjah Mada sangat dihormati sekalipun oleh para Senopati.
Ketika mendengar nama Gadjah Mada, hal pertama yang terlintas adalah Sumpah Palapa yang terkenal itu. Begitu juga ketika pertama kali saya melihat buku ini. Saya harap akan mendapatkan cerita tentang sumpah yang dahsyat itu. Ternyata tidak. Buku ini tidak bercerita tentang itu. Atau lebih tepatnya belum. Karena ternyata akan diceritakan di buku seri berikutnya.
Seri pertama buku ini bercerita tentang petualangan Bekel Gadjah Mada dalam menumpas pemberontakan di negeri Majapahit. Ketika itu Majapahit dipimpin oleh Jayabaya. Disebabkan karena dendam dan godaan akan nikmatnya kekuasaan, sekelompok orang dekat kerajaan berniat melakukan pemberontakan. Padahal, orang-orang itu telah mendapat anugrah dari Majapahit sebagai Dharmaputra Winehsuka.
Pemberontakan dipimpin oleh Rakian Kuti atau Ra Kuti. Mendapat dukungan dari pasukan kerajaan setelah melakukan lobi-lobi politik dengan menjanjikan kekuasan dan jabatan. Mereka menyerbu Kotaraja, ibu kota Majapahit, untuk menggulingkan Jayabaya. Bersama sekelompok kecil pasukan Bhayangkara, Bekel Gadjah Mada berusaha untuk menyelamatkan Jayabaya walupun terpaksa harus mengungsi ke luar Kotaraja. Pada akhirnya, sebagaimana seharusnya tokoh utama sebuah cerita, Gadjah Mada berhasil menyelamatkan Majapahit dari ancaman makar. Pimpinan pemberontak tewas dalam cerita tersebut.
Kurang lebih ceritanya begitu. Kalau mau kisah lengkapnya, ya baca sendiri, doonk. Karena tulisan ini tidak ditulis untuk menyajikan spoiler. Saya mau menuliskan kesan dan penilaian setelah membaca buku ini.
Walaupun ini hanyalah sebuah novel fiksi tetapi banyak fakta sejarah yang akurat dalam cerita ini. Sebagian besar tokoh utama memang benar-benar sesuai dengan fakta sejarah. Plot dan alur cerita juga ilmiah. Dilengkapi dengan informasi tahun kejadian sesuai buku sejarah. Namun demikian, masih ada beberapa “kesalahan” cukup fatal dalam memfiksikan sebuah sejarah. Langit Kresna Hariadi sendiri (di buku selanjutnya) mengakui melakukan kesalahan cukup fatal mengenai lokasi kejadian yang meleset dari fakta sejarah. Saya menikmati buku ini dari sisi fiksinya, bukan dari sejarahnya. Sehingga gak begitu peduli dengan kesalahan tersebut. Atau mungkin tidak menyadari ada kesalahan sejarah di buku ini.
Terlepas dari kesalahan ini, buku ini sangat bagus. Om Langit mampu membuat saya terhanyut dalam alur yang dibuat sedemikian rupa sehingga saya selalu tidak sabar untuk membuka halaman berikutnya. Semula saya mengira ceritanya akan berlangsung cepat dan mudah ditebak. Tapi ternyata salah. Saya terjebak oleh alur yang terkesan cepat. Di awal buku sudah menceritakan langsung ke inti pemberontakan. Langsung masuk ke konflik. Namun ternyata di tengah-tengah, alur bisa tiba-tiba berbelok ke arah yang tidak terduga. Mengejutkan. Semula, saya telah menebak akan begini dan akan begitu, namun ternyata salah semua.
Yang paling keren adalah ketika ternyata ada pengkhianat di tubuh Pasukan Bhayangkara. Sebenarnya Gadjah Mada telah mengetahui ada duri dalam daging di dalam pasukannya. Namun sulit untuk memastikan siapa orangnya. Sulit mempercayai di sebuah tim yang sangat solid, akrab dan merasa saling bersaudara ada pengkhianat. Om Langit Kresna Hariadi sukses membuat saya penasaran dan pada akhirnya tercengang karena tidak menduga bahwa dia pelakunya.
Bagian tersebut yang paling seru. Saking penasarannya, saya sampe buka-buka halaman sebelumnya hanya sekedar untuk memastikan tebakan saya tentang siapa sih pengkhianat tersebut. Tapi saya gak sampe loncat halaman, lho. Karena saya gak suka spoiler.
Walaupun bercerita tentang perang jaman dulu, tapi gaya ceritanya tidak seperti cerita silat macam Wiro Sableng. Tidak akan ditemui jurus-jurus sakti seperti Jurus Kunyuk Melempar Buah. Walaupun pasukan Bhayangkara diceritakan jago memainkan senjata seperti pedang atau panah, tidak akan ada senjata-senjata sakti seperti panah Pasopati milik Arjuna atau gada Rujakpolo kebanggaan Bima. Semua kesaktian tokoh di cerita ini masih sangat wajar. Paling hanya ada strategi perang jaman dulu seperti gelar perang Sapit Urang. Hal ini justru menjadi menarik, karena cerita jadi terkesan realistis. Kalo dibikin film, biaya produksinya jadi lebih murah karena gak perlu spesial efek yang aneh-aneh. Hahaha…
Secara umum, buku ini bagus sebagai hiburan sekaligus pendidikan sejarah. Setelah baca buku ini jadi tau beberapa tokoh jaman baheula. Gaya bahasanya pun menyenangkan dan tidak membosankan. Kecerdasan Pakdhe Langit dalam mengolah kata-kata dapat disejajarkan dengan novelis favorit saya: Dan Brown. Recommended untuk dibaca, deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar